Senin, 20 Mei 2013

Meratapi Cinta di Norwegia


Oslo

Dear Rangga dan Gusti,

Karena aku nggak bisa tidur malam ini (Yaelah "aku". Biasanya juga "gue". Biarin lah, biar keliatan imut. Tapi kan emang gue imut!), maka kuputuskan untuk berbagi kegalauanku hari ini.

Kalian pasti udah tau kan, akhir pekan panjang ini aku habiskan untuk berlibur ke kota Viking, Oslo. Dan dapat ditebak, Viking-Viking jaman sekarang udah oke oke. Beda dengan dulu yang berbadan besar dan berkumis tebal. Ya, semacam pak Raden gitu lah.

Niat hati mencari foto-foto yang ciamik buat koleksi mengingat Norwegia yang indah pemandangannya. Tapi wahai Gusti dan Rangga, apakah kalian tahu apa yang kutemukan? Oh, sungguh tak sampai hati ini mengungkapkan lewat tulisan ini. *elap air mata*


Musim panas memang sangat dinanti warga Skandinavia setelah musim dingin yang panjang. Warga pun berbondong-bondong mencari tanah lapang untuk berpiknik. Ini beda ama lo Gus, kalo piknik di kantor kelurahan. Lapangan di sini juga beda sama lapangan bola Senayan. Camkan itu ye!

Nah, singkat cerita, aku menjelang matahari terbenam mau nyari gambar di dekat pelabuhan Oslo. Yah, itung-itung menikmati senja biar romantis dikit. Tapi makjaaannggg... Di taman udah banyak aje yang nongkrong. Malah ada yang guling-gulingan ciuman sama pacarnya. Bibirku tergigit tanpa sadar. Ya Allah, cobaan apa ini?

Menghindari pemandangan itu, aku memutuskan untuk berkeliling ke arah bukit yang ditempati oleh istana salah satu bangsawan Oslo zaman renaisans. Tibalah di spot di mana bisa melihat senja dengan bagus. Tiba-tiba ada satu pasangan datang dan mulai menggelar kain. Kubidiklah mereka. Begitu romantis dalam kameraku. Lalu aku menengok kamera. Lalu aku juga pengen difoto. Tapi siapa pasanganku? :(

Itu belum berakhir. Hari ini aku jalan-jalan untuk melupakan galau itu. Tapi ya ampuunnn... Banyak bapak-bapak bawa anaknya jalan-jalan. Dan tampangnya nggak standar (kalo dibandingin Rangga mah, dia 10.....dari 1000). Mereka itu hot daddy! Pengen rasanya aku memeluk mereka dan bilang: "Would you like to be the father of my child too?"


:(

Terus... terus, di kereta tiba-tiba ada pasangan muda yang masuk. Yang cowok lucu pakai kaca mata, yang cewek agak gendut dan nerd banget. Kusangka mereka teman. Tapi mereka mulai pangku-pangkuan, cium-ciuman. Aaah... Tak sanggup lagi aku melihat adegan di sampingku itu.

Nanti, jika aku kembali ke Belanda, apakah aku akan mendapatkan pasanganku? Dari semua peserta kursus, hanya ada aku dan satu lelaki yang belum menikah. Tapi temanku dari Zimbabwe itu akan menikah desember nanti. Lagi pula dia juga bukan tipeku.

Ah, haruskah aku mendaki di atas kincir angin supaya lebih jelas bertanya pada angin? Atau, aku teriak kepada bunga tulip yang tak kunjung mekar meski sudah masuk musim panas?

Gusti dan Rangga...

Tapi memang keputusan ada padaku. Aku memutuskan, untuk bergabung dengan beruang kutub. Menyendiri. Mungkin saja aku nanti jadi beruang dan mendapatkan jodohku.

Mohon doanya ya.....

*cling* *berubah jadi beruang kutub*


Ririn Radiawati,

Oslo, 20 Mei 2013

7 komentar:

  1. huahahahahahahaha...cemungud mbak rien

    BalasHapus
  2. Dear Mbak Ririn yang Nelangsa,

    Maaf agak lama bales suratnya, bukan lantaran aku (cieh!) menganggap permasalahan Mbak Ririn nggak penting, tapi karena dengan membaca surat Mbak, aku jadi berkaca pada nasibku sendiri.

    Seperti yang Mbaknya ketahui, di Dundee, musim semi sudah menghampiri, sinar matahari pun mulai sering menyapa bumi, dan walhasil, banyak juga pasangan-pasangan yang gegoleran sambil berpelukan di tanah lapang (hiks!).

    Aku pun telah berusaha melaporkan ini ke Komnas Perlindungan Lajang Merana, namun nggak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Rupanya di sini permasalahan pengangguran lebih penting dari masalah perasaan para lajang.

    Akhirnya aku pun memutuskan mencari solusi sendiri. Pertama, aku mencoba menjaga pandangan. Ini dapat dilakukan dengan menggantung foto tokoh idola 30 cm di depan mata. Mbak tinggal pilih, mau pasang foto One Direction kah, Justin Bieber kah, atau mungkin Ian Kasela? Solusi ini cukup bekerja dengan baik.

    Solusi kedua yang pernah aku coba adalah bernyanyi sambil berjalan. Bukan cuma bersenandung, tapi nyanyi beneran, dengan penghayatan dan artikulasi lagu yang prima! Pake koreografi kalo perlu! Dengan begini, dijamin, Mbak nggak akan ngeliat sekeliling, karena gantian mereka yang melototin Mbaknya. Disangka ayan.

    Sementara itu dulu solusi yang bisa aku tawarkan, semoga nanti Gusti bisa memberi arahan yang lebih mendalam.

    Rangga, Dundee, 24 Mei 2013.

    BalasHapus
  3. Dear Mbak Ririn dan Rangga, yang sama-sama nelangsa.

    Membaca surat kalian, dan ingin membalasnya dengan kata "Aku"..aku jadi merasa bagian dari program "Surat Bolang" yang ditayangin di tipi. Bedanya, klo Bolang di tipi itu Bocah Petualang, di blog ini artinya Bocah Lajang. Untung bukan Bocah Tua Nakal.

    Kalian yang berada di negeri Eropa, mungkin pernah mendengar senandung lagu dari Om Ebiet G Ade yang melas itu..judulnya "Cintaku Kandas di Rerumputan" persisssss banget buat gambarin cerita kalian.

    Begini sepenggal liriknya :
    Kuputuskan untuk berlari menghindarimu sejauh mungkin
    Cintaku kandas di rerumputan

    Sekilas, mungkin mendengar lagu ini akan membuat kalian berlari ke dapur, mengambil sebilah pisau, dan mengiris urat nadi.
    Tapi tahan, karena di akhir lagu..ada lirik yang memberi kita secercah harapan ..begini bunyinya :

    Aku mulai sadar cinta tak mungkin kukejar
    Akan kutunggu, harus kutunggu sampai saatnya giliranku
    Dan ketika engkau datang , aku pejamkan mataku

    Balik ke permasalahan,
    Kesalahan Mb Ririn disini adalah Mb Ririn terlalu banyak bergerak, sehingga Mb Ririn selalu menemukan kejadian pasangan sedang bercumbu.
    Kalau besok-besok nemuin pasangan sedang bercumbu mesra, tunggulah!! Tongkrongin itu pasangan, kalau perlu dekati dan lihat secara seksama. Dijamin, pasangan itu akan membubarkan diri di hadapan Mbak Ririn.
    Jangan merasa risih atas kehadiran mereka, mereka lah yang seharusnya risih akan keberadaan kita!

    Solusi kedua, adalah mengganti tempat dan waktu tongkrongan. Kita harus cerdik membaca rutinitas dua insan yang dimabuk cinta. Misal, udah tau Sabtu dan Minggu itu jadwal orang pacaran menyebar kemesraannya di tempat publik. Jadi kalo bisa, Sabtu dan Minggu kita habiskan waktu di kantor ato di rumah saja.

    Hindari lokasi-lokasi rawan seperti Mall, Taman, Bioskop, atau Restoran. Pilih lokasi yang lebih menantang untuk menghibur diri kita seperti Terminal, Kuburan, Kantor Polisi atau Pasar Induk. Insya Alloh bukan hanya kita bisa menghindari pemandangan orang pacaran, tapi kita bisa menemukan peristiwa-peristiwa yang lebih memiliki nilai berita seperti penjambretan, perampokan, naiknya harga bawang secara menggila, atau bahkan pembunuhan.

    Sekian dulu saran dari saya, semoga bisa mulai diterapkan oleh Mbak Ririn. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gusti gilaaakk!!!! Ahahahahhaha...

      Hapus
    2. Heh Gus, gua udah hindari tempat-tempat demikian, gua hari ini cuma ke perpus dan ke masjid. Bayangin ke perpus dan ke masjid!!!!!

      Pas adzan dzuhur memanggil, gua beresin lanptop dan melangkah keluar perpus, belom ada lima langkah, seorang gadis berambut pirang tersenyum lebar pada seorang pria yang duduk di sebuah meja panjang. Si pria membalas senyuman itu. Si gadis mendekat. Dan terjadilah sebuah adegan ciuman yang penuh hasrat dan birahi!!!

      Gua tanya Gus, gua harus kemana lagi?? Harus KEMANA!!!!!!????

      - RDF -

      Hapus
  4. Rangga, ke kamar gw sini. Ada adegan gw sama laki gw. Hahahahaha

    ^^v

    BalasHapus