Selasa, 23 September 2014

Inilah "Calon Sangat Kuat" Menteri ESDM

Jakarta – Pengamat energi sekaligus analis yang hendak menjadi oralis, Rangga D. Fadillah, menyatakan saat ini setidaknya ada 44 nama yang layak menjadi kandidat Menteri ESDM di kabinet Jokowi mendatang.

“Separuh dari nama itu adalah nama-nama hari dan nama-nama baik untuk bayi berdasar bulan lahir, jadi praktis sisanya hanya 22 yang masuk nominasi menjadi menteri,” kata Rangga dalam keterangan tertulisnya di atas lembaran daun pisang, Selasa 23 September 2014.

Rangga yang mendadak mengaku jadi pengamat menyebut, nama-nama yang masuk dalam nominasi selama ini sangat bervariasi namun memiliki andil tersendiri di sektor energi. Ada yang dari kalangan profesional, mantan birokrat, pengusaha, hingga wartawan energi.

Para nominasi tersebut adalah  Kuntoro Mangkusubroto, R. Priyono, Evita Legowo, Luluk Sumiarso, Darwin Silalahi, Karen Agustiawan, Darmawan Prasodjo, Kurtubi, Pri Agung Rakhmanto, Arie Soemarno, Purnomo Yusgiantoro, Poltak Sitanggang, Erry Riyana Hardjapamekas, Tumiran, Rovicky, Deendarlianto, Arif Budimanta, Rista Rama Dhany, Kelik Dewanto, Maikel Jefriyando, Saugy Riyandi, dan Gustidha Budiartie.

Namun, lanjut Rangga, dari 22 nama yang masuk nominasi perlu diingat ada beberapa indikator yang terus menerus diulang oleh Jokowi untuk duduk di kursi kementerian paling panas ini.

Sama seperti rilis pengamat yang lain, indikator pertama yang ditegaskan oleh Jokowi adalah bukan berasal dari partai politik. Sehingga, tiga nama langsung gugur secara otomatis yaitu Kurtubi, Darmawan Prasodjo, dan Arif Budimanta.

Masih sisa 19 nama. Kemudian, kita dipaksa ingat lagi kata-kata Jokowi bahwa menteri berasal dari kalangan muda artinya kita mencari menteri seperti menyeleksi VJ MTV. Muda, berani, dan gaya. Dari syarat itu, beberapa nama bukan lagi tersisih tapi langsung rontok! Seperti Kuntoro Mangkusubroto, Evita Legowo, Ari Soemarno, Erry Riyana, Luluk Sumiarso, dan Raden Priyono.

Dengan gugurnya nominasi yang lanjut usia, tersisa 13 nama untuk dipertimbangkan oleh Jokowi. “Kemungkinan yang tidak lolos kali ini adalah dari kalangan pengamat atau asosiasi, untung saya gak nyalon jadi menteri,” kata Rangga yang lebih memilih ikut seleksi Pria L Men ketimbang seleksi menteri.

Pengamat, lanjut dia, masih sangat dibutuhkan di negeri ini. Apalagi dengan masuknya Kurtubi ke partai politik serta Pri Agung yang belakangan jarang angkat telepon wartawan lagi, jika tetap dipaksakan jadi menteri dipastikan berita-berita sektor energi akan kurang berimbang.

“Kalau semua pengamat ingin jadi menteri, lalu siapa yang mengkritik pemerintah ke depannya? Saya tidak mau jadi pengamat terus, ini hanya lompatan karir saya sebelum full jadi model GT Man,” tegas analis yang berusaha mati-matian jadi sixpack sejak tiga tahun terakhir.

Dari syarat yang semakin mengada-ada itu, maka Pri Agung, Rovicky, Tumiran, dan Deendarlianto pun menyusul Kuntoro CS ke kursi penonton.

Sembilan nama pun kini bersaing ketat, tapi dipastikan Karen Agustiawan tidak akan meramaikan dan bersedia dinominasikan menjadi menteri. Bukan terkait pengunduran dirinya dan skandal SKK Migas yang belum tuntas, namun ia lebih memilih untuk mengajar di Harvard untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Tinggal segelintir lagi untuk memilih menteri, dari delapan nama yang tersisa enam diantaranya merupakan wartawan energi dan dua orang lagi adalah pengusaha di sektor energi.

Menanggapi soal dimasukkannya nama-nama wartawan energi di perebutan kursi menteri, menurut Rangga hal itu bukannya mustahil. Apalagi para wartawan itu sangat berdedikasi selama bertahun-tahun dan mengetahui seluk beluk dunia energi hampir setara dengan para pemangku kepentingan.

“Lebih masuk akal saya nominasikan nama wartawan energi ketimbang saya masukkan nama-nama atlet voli,” jawabnya dengan nyinyir.

Rabu, 17 September 2014

Saat Rambo Patah Hati

Perhatian : Kisah ini adalah kisah nyata yang difiksikan untuk melindungi harga diri oknum-oknum tertentu. Jika ada yang merasa memiliki kemiripan kisah, bisa jadi emang ini cerita soal ente. Sebab, di balik setiap tragedi selalu ada komedi untuk ditulis.

Setelah kisah Dhuri dan Mithun, ada lagi cerita soal Rambo, pewarta ekonomi yang penampakannya dari jauh kaya kulkas dua pintu. Dari deket, kaya bis malam kesepian. Tau kan ciri bis malam kesepian, yaitu bis yang meskipun jalanan lurus dan terang benderang , tetep aja si supir bawanya ugal-ugalan. Bukan karena supirnya yang mabok, tapi gara-gara bisnya nenggak bensin oplosan. Hasil campuran solar sama ekstrak kulit duren.

Nah, gak sengaja gue ketemu sama si Rambo waktu liputan di gedung dewan. Gak mungkin juga gue gak lihat doi kan, dengan bobot 0,9 kuintal dan diameter hampir separoh parkiran sevel…mustahil kalo mata lo tidak menangkap sosoknya.

Apa hubungan Rambo, Kopi Herbal, dan patah hati ? Simak terus ceritanya....

Sabtu, 13 September 2014

Kasih Tak Sampai: Dhuri dan Ajay, Dua Hati Sulit Bersatu

PERHATIAN: Kisah ini adalah kisah nyata yang difiksikan. Jika ada kesamaan nama, tempat dan pengalaman…. Ya udah terima aje, namanya juga kisah nyata! Demi melindungi oknum-oknum yang terlibat dalam kisah ini sengaja semua nama dan penampakan gue samarkan.

Malem itu gue baru aja sampe kos. Jam tangan gue menujukkan angka 8. Akhir-akhir ini gue emang sering banget pulang malem. Lu pasti kira gue kerja keras. Bukan. Gue nongkrong dulu di warung Indomie di ujung gang kosan.

Jam 7 sampe Jam 8 adalah waktu dimana bidadari-bidadari Gang Komando lalu lalang nyari makan malam. Emang tipis kemungkinan mereka sudi melemparkan pandang, tapi gapapa, gue orangnya positive thinking. Masa dari 20 gadis yang melenggang ga ada satu juga yang rela membalas senyuman gue. Biar malam semakin kelam, gue ga bakal patah arang!

Nah, malem itu, begitu tas gue taro di atas kasur, ponsel gue bergetar. Pas gue cek, ada pesan whatsapp dari sohib gue si Madhuri Dixit. Demi kemudahan kita panggil aja wanita ini si Dhuri. Emang kelakuannye mirip Dhuri dalam daging kalo lagi kambuh sakit ayan wal sawan-nya akibat kekurangan belaian.

Dhuri: Mabs, gue lagi di sauna.

Gue: Lha terusssssss???????

Dhuri: Lagi nangis.

Selasa, 09 September 2014

Bakpia Cinta Buat Si Jelita

Perhatian : Ini adalah kisah nyata yang kami bungkus dengan fiksi demi melindungi oknum yang diceritakan. Kalau kalian ternyata tahu siapa oknum itu, ya udahlah ya…pura-pura gak tahu aja. Daripada hancur harga diri tuh orang. Kisah ini gue tulis karena si oknum gak sanggup nulis ceritanya sendiri. Well, mari kita simak.

Ada sejuta cara untuk menyampaikan perasaan cinta atau suka. Dari yang paling sederhana sampe yang paling norak. Niatnya mungkin romantis, tapi realisasinya malah jadi tragis. Seperti yang dialami oleh salah satu sohib gue, kita sebut saja Mithun Cakraborthi, jelas bukan nama sebenarnya.
Mithun ini, jelas terlalu banyak nonton FTV dan terinspirasi dari kisah-kisah fiksi itu buat dieksekusi di dunia nyata. Meski gue udah bilang bolak-balik bahwa FTV itu jelas-jelas bohong karena sampe sekarang gue belom pernah nemu ‘Kenek Metromini Seksi Pujaan Hati’ atau ‘Abang Ojek Tampan Kekasih Idaman’ atau bahkan “Satpam Gagah Hobi Menjamah”. (Kayaknya ada yang salah di judul terakhir)

Okelah, intinya sih gue bilang ke dia sampe sekarang gue belom pernah ketemu kenek-kenek metromini dengan body sixpack yang bikin gue rela ngetem di hatinya buat waktu tak terkira. Kalo pengamen manis sih lumayan sering…makanya gue pilih naik transjakarta aja. Biar gak boros nyawerin pengamen.

Tapi dia ngotot, dia ngotot bahwa sesekali bertindak konyol demi cinta itu gak apa-apa. Sesekali ngikutin drama-drama di tivi itu bukan masalah. Meski sampe saat ini, gue belom pernah nemuin drama di tv manapun yang mutusin pacarnya cuma via whatsapp aja. (Oh iya, kita ngomongin oknum yang sama…oknum yang bisa romantis saat mengejar cinta, dan sadis saat mutusin cinta)

Interupsi

Mithun :
Ralat dikit, Mabs. Emang sih gue putusin via whatsapp tapi kan habis itu gue udah kelarin baek-baek dan ketemuan langsung. Bukan apa-apa, Mabs. Gue ini paling gak tega lihat cewek nangis. Lagian dalam sejarah percintaan gue..baru kali ini gue mutusin cewek. Berat, Mabs…

Goestay :
Apa kata loe dah, BTW..ngapain sih loe pake interupsi segala ? Sesuai perjanjian pan ini jatahnya gue ceritanya soal lau. Lau bales di postingan berikut ajeee!

Lanjut, gue bingung harus mulai dari mana ?
Baiklah, kita mulai kira-kira sebulan setelah si Mithun mutusin pacarnya via whatsapp

Interupsi

Mithun :
MABS! Napa masih dibahas dah itu whatsapp!!?

Goestay :
BERISIKKKK! Suka-suka gue dah kan gue yang nulis! Kalo gak suka lo aja yang nulis nih!

Mithun :
Langsung aje langsung…masuk ke cerita gue demen ama si jelita, terus gimana gue ngerayu dia, gimana dia bikin hati gue kejet-kejet…pengalaman jalan ama doi, terus jangan lupa bagian……..

 Goestay :
*mute Mithun*

Mithun :
………………………..!!!!!...........................?!!!!!!........!!!!!!!!

Selasa, 12 Agustus 2014

Andai Cinta Berondong Bisa Direnegosiasi

Dear Rangga sama Gusti,

(bentar gue nangis dulu. Masih dalam rangka bersedih *sob*)
Gue tahu, sudah lama gue tidak mencurahkan isi hati gue kepada kalian. Karena kalian sudah berada di satu negara lagi, mungkin ini waktu gue meluangkan keluh kesah dari negara lain ya.

Jujur gue demen banget dah waktu ngedenger berita kalau Fujian mau memperbaiki kontrak gas Tangguh lebih dari dua kali lipat harga awal. Itu artinya hubungan Indonesia dengan Tiongkok makin mesra. Setelah bertahun tahun di-PHP sama Tiongkok, akhirnya luluh juga! 

Tapi, apa hubungannya antara perjanjian jual beli gas Tiongkok ama perasaan gue saat ini? Bentar dulu. Sabar. Masalah gue ini juga nggak kalah penting dari hubungan harmonis Indonesia dengan Tiongkok!

Rang, Gus (semut rangrang sama tiGus maksud gue), seperti yang lo tau. Selama setahun terakhir, sembari gue mengenyam ilmu di Singapura, gue juga minum air (maksud gue sama kayak sambil menyelam minum air itu loh!). Bukan gue namanya kalau nggak nyari drama dalam hidup gue. Semuanya berawal dari pandangan pertama (di sini soundtrack “pertama kali berjumpa denganmu oh kasihku… dunia seolah kan runtuh” dimaenin). Bayangin aja adegan kayak di pelem pelem, gue ama dia lagi tatap tatapan. Lalu gue deg-degan. Kira-kira gitulah, RangGus (kok makin jelek aja nama panggilan lu bedua).

Singkat cerita, gue sama dia deket lah. Itupun pakai perjuangan karena umur gue sama dia terpaut jauh (aduh bocor gue!). Deket dengan brondong memang harus selalu penuh dengan kesabaran. Nggak hanya terpaut umur, tapi juga beda negara dan juga orientasi hidup! Nggak sedikit frekuensi gue dinomorduakan karena dia lebih milih belajar. Bayangin GusRang! BELAJAR!!!! Jadi adegannya kira-kira begini:

Gue: Hey brondoooonnggg.. Jalan yuk besok weekend..
Dia: Aduh, ada tugas mata kuliah ini nih. Gue harus ngerjain. Belum lagi gue harus belajar soal tes ini.
Atau bisa begini juga.
Gue: Lo pulang jam berapa? Gue di tempet lo nih.
Dia: Nggak tau. Gue di study room.
Gue: *lumutan nunggu sampe larut*
Atau bisa gini juga kalau via layanan pesan di ponsel.
Gue: Hey brondong.. lagi apa?
*dua jam kemudian*
Dia: Sori tadi gue lagi belajar jadi nggak liat henpon.

Ya ampuuunnn.. Rasanya pengen guwe tampar tu yang namanya belajar. Enak bener doi bisa menghabiskan waktu sama brondong gue dibanding gue. Sedih gue TiGa (nah lo panggilan lo beda lagi pan?).

Gue tau, lo pasti bakalan berpikir kalau gue harusnya ikut aja belajar ama dia. Yeeee..boro-boro belajar bareng itu romantis. Kagak! Belajar ya dia konsen ama leptop dan buku, guenya cuman mupeng liatin dia. Haduh! Lagian kan gue alergi belajar. Kayak nggak ada kegiatan lain aja sih belajar mulu! (Bagi adek-adek yang lagi sekolah, jangan dicontoh ya kelakuan kakak yang manis dan cantik ini.)

Tapi, di samping dia nyuekin gue, banyak hal-hal manis yang nggak bisa gue ungkapkan di sini. Karena, gue tau lu bedua kagak mau denger cerita seneng gue. Maunya denger cerita sedih gue kan? Ya kan? Ngaku deh! *banting leptop seharga 13 juta*.

Tapi Gusti, Rangga, semua senang dan sedih itu ternyata nggak berakhir bahagia layaknya negosiasi harga gas Tiongkok dengan Indonesia (tuh kan ada hubungannya. Apa juga gue bilang!). Hati gue hancur ketika mendengar dia mau pergi. Ngelanjutin sekolah ke negara lain. Gue tau pas Maura cerita kalau dia ngeliat si brondong pelukan sama Pak Wardiman. Mau ke New York katanya. Eh bentar, gue salah scene kayaknya. Tapi gue emang sama kecenya sih kayak Dian Sastro. Jadi masih masuk lah. Kita lanjutin scene nya yok!

Hati gue sedih. Gue mau ditinggal. Jauh. Dan entah kapan lagi gue bisa ketemu dia. Dan tadi gue makan malem bareng sama dia. Untuk terakhir kalinya sebelum dia cabut. Gue harus gimana Ngga! Gust! Apa gue harus lari-lari di bandara kayak Cinta? Atau gue harus ngaku kalau gue hamil sehingga dia nggak pergi (gue nggak tau ini scene film apa tapi ini masuk akal sih peduli setan gue nggak hamil juga!)?

Please! Please! Gue butuh saran kalian berdua! Segera!