Selasa, 12 Agustus 2014

Andai Cinta Berondong Bisa Direnegosiasi

Dear Rangga sama Gusti,

(bentar gue nangis dulu. Masih dalam rangka bersedih *sob*)
Gue tahu, sudah lama gue tidak mencurahkan isi hati gue kepada kalian. Karena kalian sudah berada di satu negara lagi, mungkin ini waktu gue meluangkan keluh kesah dari negara lain ya.

Jujur gue demen banget dah waktu ngedenger berita kalau Fujian mau memperbaiki kontrak gas Tangguh lebih dari dua kali lipat harga awal. Itu artinya hubungan Indonesia dengan Tiongkok makin mesra. Setelah bertahun tahun di-PHP sama Tiongkok, akhirnya luluh juga! 

Tapi, apa hubungannya antara perjanjian jual beli gas Tiongkok ama perasaan gue saat ini? Bentar dulu. Sabar. Masalah gue ini juga nggak kalah penting dari hubungan harmonis Indonesia dengan Tiongkok!

Rang, Gus (semut rangrang sama tiGus maksud gue), seperti yang lo tau. Selama setahun terakhir, sembari gue mengenyam ilmu di Singapura, gue juga minum air (maksud gue sama kayak sambil menyelam minum air itu loh!). Bukan gue namanya kalau nggak nyari drama dalam hidup gue. Semuanya berawal dari pandangan pertama (di sini soundtrack “pertama kali berjumpa denganmu oh kasihku… dunia seolah kan runtuh” dimaenin). Bayangin aja adegan kayak di pelem pelem, gue ama dia lagi tatap tatapan. Lalu gue deg-degan. Kira-kira gitulah, RangGus (kok makin jelek aja nama panggilan lu bedua).

Singkat cerita, gue sama dia deket lah. Itupun pakai perjuangan karena umur gue sama dia terpaut jauh (aduh bocor gue!). Deket dengan brondong memang harus selalu penuh dengan kesabaran. Nggak hanya terpaut umur, tapi juga beda negara dan juga orientasi hidup! Nggak sedikit frekuensi gue dinomorduakan karena dia lebih milih belajar. Bayangin GusRang! BELAJAR!!!! Jadi adegannya kira-kira begini:

Gue: Hey brondoooonnggg.. Jalan yuk besok weekend..
Dia: Aduh, ada tugas mata kuliah ini nih. Gue harus ngerjain. Belum lagi gue harus belajar soal tes ini.
Atau bisa begini juga.
Gue: Lo pulang jam berapa? Gue di tempet lo nih.
Dia: Nggak tau. Gue di study room.
Gue: *lumutan nunggu sampe larut*
Atau bisa gini juga kalau via layanan pesan di ponsel.
Gue: Hey brondong.. lagi apa?
*dua jam kemudian*
Dia: Sori tadi gue lagi belajar jadi nggak liat henpon.

Ya ampuuunnn.. Rasanya pengen guwe tampar tu yang namanya belajar. Enak bener doi bisa menghabiskan waktu sama brondong gue dibanding gue. Sedih gue TiGa (nah lo panggilan lo beda lagi pan?).

Gue tau, lo pasti bakalan berpikir kalau gue harusnya ikut aja belajar ama dia. Yeeee..boro-boro belajar bareng itu romantis. Kagak! Belajar ya dia konsen ama leptop dan buku, guenya cuman mupeng liatin dia. Haduh! Lagian kan gue alergi belajar. Kayak nggak ada kegiatan lain aja sih belajar mulu! (Bagi adek-adek yang lagi sekolah, jangan dicontoh ya kelakuan kakak yang manis dan cantik ini.)

Tapi, di samping dia nyuekin gue, banyak hal-hal manis yang nggak bisa gue ungkapkan di sini. Karena, gue tau lu bedua kagak mau denger cerita seneng gue. Maunya denger cerita sedih gue kan? Ya kan? Ngaku deh! *banting leptop seharga 13 juta*.

Tapi Gusti, Rangga, semua senang dan sedih itu ternyata nggak berakhir bahagia layaknya negosiasi harga gas Tiongkok dengan Indonesia (tuh kan ada hubungannya. Apa juga gue bilang!). Hati gue hancur ketika mendengar dia mau pergi. Ngelanjutin sekolah ke negara lain. Gue tau pas Maura cerita kalau dia ngeliat si brondong pelukan sama Pak Wardiman. Mau ke New York katanya. Eh bentar, gue salah scene kayaknya. Tapi gue emang sama kecenya sih kayak Dian Sastro. Jadi masih masuk lah. Kita lanjutin scene nya yok!

Hati gue sedih. Gue mau ditinggal. Jauh. Dan entah kapan lagi gue bisa ketemu dia. Dan tadi gue makan malem bareng sama dia. Untuk terakhir kalinya sebelum dia cabut. Gue harus gimana Ngga! Gust! Apa gue harus lari-lari di bandara kayak Cinta? Atau gue harus ngaku kalau gue hamil sehingga dia nggak pergi (gue nggak tau ini scene film apa tapi ini masuk akal sih peduli setan gue nggak hamil juga!)?

Please! Please! Gue butuh saran kalian berdua! Segera!


Senin, 21 Juli 2014

Nangkep Maling Alay Kasmaran

Dear Rangga,

Kali ini gue mau cerita soal fenomena baru di kampung gue.

Kampung gue ini emang sensasional, gak pernah mau ketinggalan heboh-heboh. Kalo jagat internasional dan nasional sibuk ama isu-isu dan pemberitaan luar biasa, kampung ini juga punya cerita sendiri yang gak kalah menarik.

Kebon Sayur selama ini dikenal sebagai kawasan aman, meski kampung tetangga waktu tahun 90an sempet dikenal sebagai daerah Bronx (karena narkoba), Kebon Sayur gak ikut-ikutan terkontaminasi. Soalnya warganya pada bertakwa dan memegang prinsip Amal Maruf Nahi Munkar.. (ciyeee).

Citra aman kampung ini mulai terusik ketika Jumat ,dini hari tanggal 19 Juli 2014, seorang penghuni kos berhasil menangkap basah maling yang mencoba mencuri laptop di salah satu kamar kos.
Supaya enak dibaca (meski gak perlu), gue coba ceritakan peristiwa ini dengan sistem kronologis..dimulai dari gue sendiri (terserah gue dong, blog kite ini!!).

Rabu, 28 Mei 2014

Pemilu dan Hati yang Pilu ...

Dear Rangga,

My bestfriend
My buddy
My forever susah-senang-tetap-gaya-dan-kece-bersama

Entah kenapa beberapa bulan ini gue lagi lesu-lesunya. Terbukti, saking lesunya berat badan gue nambah lagi, jerawat pun berdatangan kembali. Lesu gue seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang kian melambat, lemah gue setara dengan rupiah yang tak kuasa menahan laju nilai tukarnya.

Hidup gue terasa hampa, seperti rekening di tanggung bulan.
Isi kepala gue berjejalan, laksana cucian kotor yang numpuk berpekan-pekan.
Apapun yang gue lakukan , gue berasa kontribusi gue ini tidak signifikan. Ibarat cengkeh di kue nastar. Apalah artinya gue ?

Segala yang gue kerjakan molor dari tenggat, ibarat ketupat yang baru nongol di tahun baru. Salah waktu dan udah basi.

Gue tahu, ada yang salah dalam hidup gue belakangan ini. Tapi jelas, dari sisi tampang gue masih kece-kece aje. Jerawat boleh datang kembali, tapi pesona tetap gak ada yang bisa memungkiri.

Gue sedih, Mabs. Bukan lantaran gue terlalu lama menyendiri...ya itu juga sih, tapi gue sedih aja ngeliat keadaan negara ini saban Pemilu hadir kembali. Pemilu itu kan harusnya pesta rakyat ya, tapi kenyataannya setiap Pemilu yang ada kita malah saling sikut dan merasa paling benar sendiri. Pesta macam apa coba yang lebih kental nuansa kelahi ketimbang happy-happy ???

Hawa begini belom berasa waktu pemilu legislatif, tapi jelang Pemilihan Presiden...wuoooooo tiba-tiba sosok-sosok tertentu nongol lalu dipuji-puji. Padahal, sosok-sosok capres ini tadinya bahkan gak kebayang. Setidaknya di akhir tahun lalu.

Gue inget banget, Mabs. Sampai akhir tahun lalu..gue sendiri masih bertanya-tanya siapa jodoh gue ? Eh, salah fokus. Maaf.
Maksud gue, sampe akhir tahun lalu..gue belom bisa membayangkan siapa kiranya yang akan maju secara positif untuk jadi pemimpin negara kita. Beberapa orang udah ngiklan emang, bahkan Bapak gue jadi bintang iklannya...ampe bela-belain jadi tukang nasi goreng baek hati (yang belom dapat jatah naik haji, kaga kaya si tukang bubur).

Bisa lihat reviewnya -> Cerita Tukang Nasi Goreng Tampan *maaf yak promo Bokap biar beken*

Balik lagi ke masalah negara, beberapa orang yang saat itu baru didengung-dengungkan bakal maju nyapres rata-rata gue udah pernah berinteraksi langsung sama mereka.Terima kasih atas pekerjaan yang gue lakoni tentunya.

Selama berinteraksi sama mereka....ya gak kebayang aja kalo mereka mau jadi presiden kita. Kalo sekedar jadi Presiden BEM sih terserah deh ye...

Kamis, 24 April 2014

Anak SD dan Cita-Citanya

Membangun mimpi anak Indonesia: Daftar cita-cita siswa-siswi SD Paseban 01.

Dear Gusti dan para pembaca yang budiman,

Mohon maaf kalo sekian lama gue mengabaikan blog kita yang terlanjur membahana. Bukan karena gue ga cinta, tapi setelah gue balik ke Jakarta, banyak hal-hal baru yang harus gue sesuaikan.

Tapi biarlah suka duka penyesuian dengan hidup baru itu gue kisahkan di lain kesempatan. Kali ini, izinkan gue cerita sedikit soal pengalaman gue ngajar bocah-bocah SD yang rupanya hidupnya jauh lebih pelik dibanding zaman kita kecil dulu.

Hari ini, gue sama 11 orang relawan (tujuh pengajar dan empat videografer/fotografer) mengunjungi sebuah sekolah yang letaknya ga jauh dari RS Cipto Mangunkusumo. Ceritanya kami ingin berbagi inspirasi soal mimpi dan cita-cita ke siswa-siswi di sana dengan cara memaparkan dan ngajak mereka ngerasain kerjaan-kerjaan kita sehari-hari.

Berminggu-minggu gue udah mengalami tekanan batin. Seperti lu tau, sejak November lalu, gue berhenti jadi wartawan dan beralih profesi jadi analis di sebuah firma konsultasi yang sangat tenar – di kalangan karyawannya (yang kebetulan cuma sembilan orang). Nah gue yang minim pengalaman ngajar ini ga ngerti gimana caranya ngejelasin profesi gue ke bocah-bocah SD.

Rabu, 23 April 2014

Cinta Itu Rabun!

Dear Mabs,

Huoooooo tampaknya yang mesti gue sapa duluan itu sebenarnya para pembaca dan penggemar blog ini *ceritanya udah banyak fans, padahal mahhhhhh*.

Sudah berbulan-bulan kita tidak memperbaharui blog ini dengan cerita-cerita aneh bin ajaib seputar percintaan.

Mungkin hal pertama yang perlu diupdate disini adalah..admin blog sudah tidak terpisah di dua benua. Sekarang kita sudah satu benua, bahkan satu kelurahan dan satu rukun warga *ini serius lohhh*

Sayangnya, meski jarak semakin dekat, kita justru semakin sibuk. Sibuk nonton drama,sibuk karaoke, dan sibuk jalan-jalan *lohhh*. Sehingga, tanpa kita sadari..kita mulai abai pada blog yang menjadi tumpahan cerita hari-hari kita..*sadappp*

Yang perlu pembaca tahu lagi, Mabs tampaknya lau mesti cerita ke khalayak bahwa lau sekarang udah gak sendiri. Akhirnya ada wanita yang khilaf dan sudi menerima hati lau untuk mengisi waktu bersama *ciehhh*. Dan lau mesti tegesin itu bukan gue, sebelum banyak yang berimajinasi bahwa kita pasangan serasi...hadahhhhh.